Bola Asing/Sphere ini saya dapatkan dari Palasari. Tentu saja dengan diskon 20% (karena baru [?]). Buku ini saya temukan bersama Mesin Waktu/Timeline. Bola Asing/Sphere saya beli pada kali kedua setelah Mesin Waktu/Timeline, karena yang disebut kedua lebih murah (maklum, waktu itu anggaran saya terbatas).
Setelah saya dapatkan, buku-buku berjudul sama justru saya temui beberapa kali di Kebon Kalapa, padahal sebelumnya sama sekali tidak. Kalau di sini, mungkin saja saya bisa memperolehnya jauh lebih murah (karena bekas).
Sementara Sphere (English) saya beli dari TB Ultimus (Jl. Lengkong Besar, Bandung). Bekas, cukup murah kalau dengan kurs USD saat itu.
Novel versi asli ini saya jadikan bandingan bagi versi terjemahannya. Paling tidak saya jadi tahu beberapa “teknik” penerjemahan.
OK, inilah beberapa pengetahuan baru yang saya dapatkan dari Bola Asing/Sphere.
Teori ruang-waktu (space-time)
Dalam pandangan umum, sering dipahami bahwa (koordinat) ruang terpisah dengan waktu. Nah, teori ruang-waktu menyatakan bahwa ruang dan waktu adalah aspek dari satu hal yang sama.
Ambil contoh dua anak, katakanlah A dan B, yang sedang bermain lempar-tangkap bola (misalnya bola bisbol). A melemparkan bola lurus ke arah B, lintasannya (hampir) lurus; waktu yang dibutuhkan oleh bola untuk sampai di B, misalnya, satu detik. Lalu, B melemparkan balik bola itu melambung ke A, lintasannya melengkung (parabola); waktu mulai bola dilemparkan sampai ditangkap oleh A, misalnya, enam detik. Kedua lintasan bola, lurus dan melengkung, tampak berbeda. Tapi, keduanya sama persis di dalam ruang-waktu. Masih menganggap berbeda? Kalau begitu, bisakah B melempar bola melambung tapi harus sampai di A dalam satu detik? Atau, bisakah A melempar bola datar yang sampai di B dalam enam detik? Ya, tidak semua yang kita, termasuk A dan B, inginkan dapat dilakukan oleh bola. Ada hukum yang mengatur lintasan bola itu melalui ruang dan waktu. Gravitasi tidak lain adalah kelengkungan ruang-waktu.
Dalam Bola Asing/Sphere, Ted yang fisikawan menguraikan konsep ruang-waktu (gravitasi dan kelengkungan ruang-waktu) ini kepada Norman “yang awam” dengan membuat analogi menggunakan mangkuk, jeruk, dan pelor baja. Jeruk, sebagai matahari, diletakkan pada mangkuk, sebagai ruang melengkung. Jeruk “melengkungkan” mangkuk; gravitasi melengkungkan ruang.
Dalam fisika, ruang-waktu adalah sebuah model yang menggabungkan 3-dimensi ruang dan 1-dimensi waktu menjadi sebuah bentuk tunggal yang disebut kontinum ruang-waktu (space-time continuum, dimensi ke-4).
More on Spacetime at Wikipedia.
Psikologi Jung (Jungian psychology)
Salah satu gagasannya menyatakan bahwa setiap orang memiliki sisi gelap dalam kepribadiannya, yang disebutnya “baying-bayang” (shadow), yang meliputi seluruh aspek kepribadian yang tidak diakui (aspek kebencian, kekejaman, dan yang semacam itu). Jika seseorang tidak mengakui sisi gelapnya, ia akan dikuasai olehnya.
Psikologi Jung adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh Carl Jung, dan merupakan pusat Psikologi Analitis (Analytical Psychology).
More on Jungian psychology at Wikipedia.
Persamaan Drake
Persamaan ini sangat terkenal dalam literatur mengenai kehidupan di luar bumi (extraterrestrial life). Sebuah persamaan probabilitas tentang kemungkinan ditemukannya makhluk cerdas (di luar bumi) di sembarang sistem bintang. Menurut persamaan ini, kemungkinan ditemukannya makhluk cerdas di luar bumi merupakan fungsi dari adanya planet-planet di sekitar suatu bintang, dan berapa yang bias ditempati, kemungkinan berkembangnya kehidupan sederhana di planet yang bias ditempati itu, kemungkinan berkembangnya kehidupan sederhana itu sampai menghasilkan makhluk yang memiliki kecerdasan, dan kemungkinan makhluk cerdas itu akan mencoba melakukan komunikasi antarbintang.
Persamaan Drake diusulkan oleh Dr. Frank Drake pada 1960-an sebagai suatu upaya memperkirakan banyaknya peradaban luar bumi (extraterrestrial civilization) dalam galaksi kita dengan mana kita bias melakukan kontak. Tujuan utama persamaan ini adalah untuk memampukan para ilmuwan untuk menghitung ketakpastian faktor-faktor yang menentukan banyaknya peradaban luar bumi.
More on Drake equation at Wikipedia.
Teori kecocokan (congruity theory)
Teori ini merupakan masalah bagi orang-orang yang memikirkan kehidupan luar bumi, menyatakan bahwa kalau makhluk asing itu tidak mirip dengan kita (manusia), kemungkinan terjadinya pertukaran informasi boleh dikatakan tidak ada. Teori ini menjadi perdebatan antara ahli astronomi dan fisika dengan ahli filosofi dan sejarah.
Selain itu, beberapa konsep disinggung secara singkat, yaitu: evolusi kehidupan di bumi, Hukum Dalton mengenai tekanan gas di dalam ruangan yang berisi beberapa macam gas, dan hipotesis keunikan (unique event hypothesis) tentang
pandangan adanya kehidupan luar bumi.
Juga beberapa fakta tentang: lubang hitam (black hole), virus AIDS, Samudra Pasifik, Pesan Davies, TAT (Thematic Apperception Test), dan gelombang ELF (extremely low-frequency).
“… setiap orang mempunyai sisi gelap dalam kepribadiannya, yang disebutnya ‘bayang-bayang’. Bayang-bayang itu meliputi seluruh aspek kepribadian yang tak diakui—aspek kebencian, kekejaman, dan semacam itu… kalau kau tak mengakui sisi bayang-bayangmu, sisi itu akan menguasaimu.”
“… manusia mempunyai otak yang terbagi dua, mempunyai dua proses mental. Manusia seakan memiliki dua otak. Otak sadar bisa dikendalikan, dan tidak ada masalah di situ. Tapi otak bawah sadar, liar dan tak terkendali, sangat berbahaya dan merusak kalau khayalannya dijadikan kenyataan.”
***
Dr. Norman Johnson adalah seorang psikolog anggota tim lokasi kecelakaan pesawat. Ia kerap mendapat panggilan dari FAA (Federal Aviation Administration) untuk melakukan terapi trauma para penumpang yang selamat dalam kecelakaan pesawat. Ketika diterbangkan ke Lautan Pasifik oleh Angkatan Laut Amerika, tentu saja ia mengira di sana telah terjadi kecelakaan pesawat. Di sana ia mendapati bahwa ini adalah proyek rahasia, dan yang berada di dasar laut adalah sebuah pesawat ruang angkasa.
Norman bergabung dalam sebuah tim yang terdiri atas beberapa ilmuwan; biologiwan Elizabeth Halpern, matematikawan Harold J. Adams, dan astrofisikawan Theodore Fielding. Mereka lalu ditempatkan di habitat bawah laut di dasar Lautan Pasifik untuk menyelidiki pesawat tersebut bersama beberapa personel AL yang dikomandoi Kapten Harold C. Barnes.
Awalnya mereka mengira bahwa itu adalah pesawat alien dari luar bumi. Tapi kemudian mereka segera menemukan bahwa pesawat itu adalah pesawat Amerika yang dibuat 50 tahun mendatang dan terkirim melalui waktu ke masa sekarang. Di dalam pesawat ditemukan sebuah benda berbentuk bola besar yang misterius yang berasal dari luar bumi. Bola inilah yang kemudian menjadi fokus misi mereka. Sementara itu di permukaan, badai melanda Pasifik. Badai ini menahan para ilmuwan di dasar lautan, tanpa kontak dengan AL di permukaan, mungkin selama seminggu atau lebih.
Sekarang upaya mereka terfokus untuk mengetahui bagaimana cara membuka bola itu dan mencari tahu benda apakah itu, apa isinya, dari mana asalnya, dan seterusnya. Harry adalah orang pertama yang berhasil membukanya dan masuk ke dalamnya. Ketika keluar, dia tidak memiliki ingatan tentang apa yang terjadi di dalamnya dan mengalami sakit kepala yang sangat. Tim tidak dapat mengerti bagaimana Harry dapat membuka bola itu.
Tiba-tiba mereka menerima kontak dari suatu bentuk kehidupan cerdas-bersahabat yang menyebut dirinya Jerry, yang sepertinya berasal dari dalam bola asing itu. Ketika mereka berjuang untuk menyingkap jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaaan mereka, berbagai peristiwa aneh dan mematikan mulai terjadi, termasuk munculnya makhluk-makhluk laut seperti cumi-cumi raksasa dan berjuta ular laut dan ubur-ubur. Dengan segera menjadi jelas bahwa peristiwa-peristiwa itu diwujudkan oleh Jerry. Satu demi satu anggota tim terbunuh dalam berbagai serangan, sementara mereka yang masih selamat berjuang untuk menenangkan Jerry yang temperamental, kekanakan, berkekuatan luar biasa, dan sulit diperkirakan yang kelihatannya tidak memiliki konsep atau pemahaman tentang kematian. Jerry menjadikan mereka sebagai sumber kesenangannya.
Kini yang tersisa adalah Norman, Beth, dan Harry. Norman mendadak memiliki peran penting saat meyakini bahwa dia harus menggunakan psikologi untuk menjaga anggota tim yang tersisa agar tetap hidup dengan meredakan Jerry agar tidak membunuh mereka. Tapi kemudian diketahuai bahwa pada kenyataannya Jerry tidaklah ada, dan bahwa bola itu memberikan kekuatan untuk menjadikan pikiran bawah-sadar menjadi nyata. Setelah memasuki bola itu, tentu saja Harry memiliki kekuatan itu. Jerry adalah Harry. Alam bawah-sadar Harry mulai mewujudkan cumi-cumi, Jerry, dan penglihatan dan mimpi-mimpinya yang berbahaya ke kehidupan nyata. Norman dan Beth, bagaimanapun juga, harus tetap hidup sebelum pikiran bawah-sadar Harry membunuh mereka. Beth dan Norman memutuskan untuk membius Harry dengan obat penenang dan penawar sakit yang mereka temukan dari kotak P3K. Setelah berhasil melakukannya, keduanya menunggu kontak dengan permukaan.
Saat itulah Norman mendapati bahwa Beth menjadi psikotik dan ternyata telah memasuki bola seperti Harry dan memiliki kekuatan itu. Beth mulai memasang bahan peledak di sekeliling pesawat dan habitat untuk membunuh mereka semua. Norman melarikan diri menuju pesawat dan memasuki bola, menerima kekuatan untuk menjadikan pikirannya nyata. Ia berpacu dengan waktu sebelum terjadi ledakan untuk berbicara dengan Beth agar menghentikan tindakannya dan menyelamatkan Harry. Harry yang telah sadar dari pingsannya lalu memukul Beth hingga tak sadarkan diri. Mereka berjuang untuk menuju permukaan dengan kapal selam yang ada di sana sebelum bahan peledak menghancurkan tempat itu. Mereka berhasil keluar dari sana tepat ketika ledakan terjadi.
Ketika berada di ruang dekompresi, ketiganya sepakat untuk menggunakan kekuatan mereka untuk melenyapkan dari ingatan apa yang mereka alami. Tentu saja kekuatan itu pun akan ikut lenyap. Mereka membuat semua yang terjadi di dasar laut sebagai sebuah kecelakaan. Mereka yakin bahwa hal itu dapat terjadi jika ketiganya melakukannya secara bersama-sama. Namun, tidak jelas apakah Beth mengikuti Norman dan Harry untuk menghilangkan kekuatan itu.
Nah… sekarang giliran yang lokal.
Novel-novel FI Indonesia
Lumayan banyak juga novel-novel FI lokal (berbahasa Indonesia, non-terjemahan). Hampir setengah dari jumlah semua novel FI yang saya punyai.
Ini dia novel-novel dimaksud:
Area X: Hymne Angkasa Raya karya Eliza V. Handayani (DAR! Mizan, Bandung, 2003)
NSJ 2122: Mumi Legenda karya Efi F. Arifin (DAR! Mizan, Bandung, 2004)
Anomali karya Santopay (Alinea, Yogyakarta, 2004)
NSJ 2122: The Independent karya Efi F. Arifin (DAR! Mizan, Bandung, 2004)
Reva Floyd karya Taufiq Affandi (Gema Insani Press, Jakarta, 2004)
Alpha Veta: Awal dari Akhir karya Sulung Haryanto (DAR! Mizan, Bandung, 2005)
Sweet Angel #1: The Pigeon karya Luna TR. (Cinta, Bandung, 2005)
Sweet Angel #2: The Rose karya Luna TR. (Cinta, Bandung, 2005)
Secret Project karya Sandia Primeia (DAR! Mizan, Bandung, 2005)
Sweet Angel #3: The Princess karya Luna TR. (Cinta, Bandung, 2005)
Zona Masa Depan karya Navisan Najia (Pustaka Anggrek, Yogyakarta, 2005)


Dan… (jreng… jreng… jreng…) semuanya saya dapatkan dari Palasari. Semuanya mendapat potongan harga 30%, kecuali yang terakhir 25%.
Ternyata, semuanya terbitan pasca-2000. Apakah sebelumnya belum ada novel FI? I don’t know. (Ada yang tahu? Kalau begitu, silakan beri saya tahu. Eh, maksudnya, beri tahu saya.) Bahkan, Area X, novel FI lokal yang saya punya, saya beli setelah lama berselang (mungkin setahun?) dari awal terbitnya.


Kalau dari segi cerita, sih, jelas belum bisa dikatakan setara dengan karya novelis-novelis asing, semisal Crichton. Kebanyakan bercerita dengan setting masa depan. (Kesannya seperti mengkhayal, setidaknya menurut saya.) Pemunculan istilah-istilah baru untuk benda-benda sekarang (misal, dalam Secret Project, Sandia menyebut komputer dengan com-D; meskipun dalam benak saya menerka teknologinya sudah jauh lebih maju) atau benda-benda khayalan (yang , menurut penulisnya, akan ada di masa datang), organisasi-organisasi, lembaga-lembaga, teknologi-teknologi; bahkan tata kehidupan pun sangat berbeda dari yang tampak sekarang.

Selain itu, diceritakan bahwa pada masa itu Indonesia telah ke percaturan sains dan teknologi dunia dan sangat diperhitungkan. (Semoga harapan para penulis tersebut menjadi kenyataan.) Teknologi sedemikian majunya, pokoknya canggih,deh. Sistem tata kota yang teratur, robot-robot (dan humanoid), koloni di luar bumi, fasilitas riset canggih, kendaraan elektris atau magnetis (tidak ada polusi dari knalpot), perangkat elektronik (terutama komputer), alat komunikasi. Pokoknya yang sekarang ini masih ada dalam khayalan. (Ada yang mungkin terwujud dalam waktu dekat, ada pula yang butuh waktu lama untuk menyata, kecuali terjadi revolusi dalam sains dan teknologi.)
Sayangnya lagi, sedikit yang menyisipkan secara menyatu konsep-konsep sains atau teknologi di dalam ceritanya. Paling hanya memberikan keterangan singkat, baik dalam teks utama maupun melalui footnote, mengenai istilah-istilah baru. Yang agak mendingan adalah Anomali yang mampu menghadirkan konsep sains dalam cerita tanpa mengganggu jalan cerita. Berbeda dengan Crichton yang dengan piawai menyisipkan konsep sains atau teknologi dalam novelnya. Misalnya konsep ruang-waktu (space-time) dalam Sphere atau interferensi cahaya dalam Timeline yang ditampilkan dalam bentuk dialog. Yah, memang ada juga yang diuraikan secara secara langsung (dalam paragraf yang panjang), dan itu agak “membosankan” saya.
Bagaimanapun, saya tetap membaca novel-novel FI lokal. Meski belum setara karya-karya dari luar, dalam pengamatan saya kualitasnya semakin bagus. See you next time…, bye!
[Sumber foto: Area X, Anomali, Secret Project, Sweet Angel #3 dari Ekuator.com; Alpha Veta, Sweet Angel #1, Sweet Angel #2 dari Novelku.com; Zona Masa Depan dari TokoGunungAgung.co.id]
Nah, sekarang giliran novel-novel dari penulis-penulis selain Crichton.
Novel-novel FI Terjemahan Lainnya

Novel fiksi-ilmiah (FI) yang saya punyai justru bukanlah karya Crichton. (Hah?) Ternyata saya sudah meminati FI sebelum “berkenalan” dengan Crichton! Kalau di posting-an sebelumnya saya sampaikan bahwa saya mulai meminati FI setelah membaca ulasan Prey di Kompas, bukan berarti saya bohong. (Sama sekali tidak!) Yah…, memang tak sepenuhnya salah; setelah saat itu, saya mulai “meminati-dengan-serius FI”. (Catat: dengan serius.) Berarti… sebelumnya tidak serius, dong! Tidak juga, sih. Pokoknya, levelnya meningkat. (Sudah, ah, jangan dibahas. Bukannya mau mengulas novel-novel FI terjemahan?) OK, back to the right way.
Ini dia daftar novel-novel FI terjemahan, selain karya Crichton, yang saya punya:
Mimpi-mimpi Einstein/Einstein’s Dreams karya Alan Lightman (Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 1999)
Lelaki di Titik Nol/Rojulun Tahta Ash-Shifr karya Mustafa Mahmud (Navila, Yogyakarta, 2000)
Kontak/Contact karya Carl Sagan (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997)
Gempa Waktu/Timequake karya Kurt Vonnegut (Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2001)
Manusia Transparan/The Invisible Man karya H.G. Wells (Quills Book Publisher, Yogyakarta, 2005)
Mimpi-mimpi Einstein/Einstein’s Dreamssaya beli ketika ada pameran buku di PSBJ (Pusat Studi Bahasa Jepang) Universitas Padjadjaran, Jatinangor. (”Judul” pamerannya saya lupa, sori….) Gempa Waktu/Timequake dari Palasari. Keduanya berdiskon 20%. Kedua novel ini, seingat saya, termasuk di antara buku-buku “generasi pertama” yang diterbitkan oleh KPG ketika baru berdiri. Sekarang ini sepertinya KPG lebih condong ke buku-buku sains populer (?). Memang, sih, buku-buku fiksinya juga cukup banyak. (Ngomong-ngomong tentang buku sains populer, jadi ingin menuliskannya di sini. Bagaimana, ada usul?)
Kontak/Contact saya beli bekas di Kalapa. Harganya lupa lagi, mungkin sekitar setengah harga barunya. Waktu itu, sedang iseng cari-cari buku. Pas baca sinopsisnya, wah, saya pikir bagus juga temanya, tentang kehidupan (makhluk) luar bumi alias extraterrestrial life.
Lelaki di Titik Nol/Rojulun Tahta Ash-Shifr dan Manusia Transparan/The Invisible Man saya peroleh dari TB Gramedia (tanpa diskon, hiks… hiks…). (Tumben! Biasanya, kan, mencari yang berdiskon.) Yah, mau bagaimana lagi, keduanya tidak saya jumpai di Kalapa atau Palasari. Lagi pula, harganya tidak mahal-mahal amat, kok. (Tapi, kan, kalau didiskon bisa lebih murah lagi.) Dan, takutnya kalau belinya nanti, malah susah mencarinya, terutama yang karya H.G. Wells. Pasti tahu, dong, di antara karya-karyanya, The Time Machine dan The War of the Worlds, yang telah diadaptasi ke layar lebar. Oh ya, siapa tahu kedua novel ini juga sudah diterjemahkan (ada info?).
Susahnya mendapatkan foto sampul edisi Indonesia; jarang, sih, penerbit Indonesia yang punya website. Paling cuma penerbit-penerbit besar. Semua cover yang dipajang di sini pun adalah edisi aslinya. (Bagaimana, nih, penerbit-penerbit Indonesia?) Tapi, it’s OK, kan?
To be continued…
[Sumber foto: Contact, Einstein's Dreams, Timequake dari Amazon.com; The Invisible Man dari Wikipedia.org]